Sabtu, 27 Oktober 2012

Memaknai Hari Raya Kurban


Oleh : ABDUL ROHIM

Hari raya idul adha yang sering disebut hari raya kurban. Tepatnya 26 Oktober 2012 . Hari raya kurban selaiknya menjadi refleksi dan aksi bagi seluruh elemen bangsa. Betapa tidak, hari raya kurban kali ini terjadi ditengah degraditas moral bangsa. Korupsi yang merajalela dan bahkan cenderung menjadi-jadi, dalam dunia pendidikan,  kita disuguhkan tontonan bagaimana pelajar dan mahasiswa saling bentrok yang mengakibatkan jatuhnya korban, berbagai kasus obat terlarang yang terus menjadi polemic, kekerasan yang  sering terjadi di tengah kehidupan berbangsa dan lain sebagainya.


Kemeriahan setiap tahun begitu dirasakan oleh umat islam di dunia. Terlebih pada hari itu perintah Allah SWT untuk berkurban (Fasolilii robbika wanhar –QS Al-kautsar : 2)  yaitu menyembelih hewan yang telah ditentukan seperti sapi, unta, kambing dan lainnya sehingga otomatis semenjak jauh hari pun di pasar-pasar hewan ataupun pasar dadakan khusus hewan kurban  begitu kentara kemeriahan nya guna menyambut hari raya ini.

Tentu ritualitas tersebut janganlah hanya menjadi rutinitas ritual yang kosong akan makna. Artinya hari raya kurban tidak membekas sama sekali dalam jiwa seorang muslim. Padahal kalau kita renungkan, hari raya ini begitu banyak pesan yang terkandung di dalamnya.

Pertama ; Hari raya kurban mengisyaratkan kita untuk lebih mendekatkan diri  kepada Allah SWT. Hal ini bisa kita lihat dari kata kurban sendiri yang berasal dari kata ‘qurbah’ yaitu dekat. Selain itu, secara historis kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra yang disayanginya yaitu Ismail menandakan kepatuhan seorang hamba terhadap sang penciptanya. Bukan saja harta, tenaga, waktu bahkan nyawapun siap dipertaruhkan nya. Namun Allah SWT ternyata hanya menguji ketaqwaan dan keimanan nabi Ibrahim, Allah tidak menghendaki manusia menjadi tumbal untuk sesembahan seperti yang terjadi pada kebanyakan masyarakat pada waktu itu, maka diluruskan lah dengan mengganti nya dengan binatang ternak berupa kibas untuk dikorbankan.

Inilah pesan vertical (Hablum minalloh ) dimana kita harus tetap teguh dalam ketaqwaan, berapapun besarnya cobaan yang menerpa kita, sesibuk apapun kita, seberat apapun perintah itu. Disinilah, Allah swt harus ditempat kan diatas segala kepentingan kita.

Kedua; Dengan disembelihnya binatang ternak dan dibagikan sebagai sedekah menandakan bahwa kita harus mempunyai rasa kesetiakawanan, rasa solidaritas, saling berbagi dengan sesama. Dengan daging hewan kurban yang telah disembelih kemudian dibagi-bagikan kepada sesama tampak jelas nilai-nilai sosial sebagai perbuatan atau ahlak yang harus dimiliki seorang muslim.

Ketiga; Menyembelih hewan kurban pun merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diberikan-Nya yang tak terhingga kepada kita (Inna ‘atoinaka kal kautsar- QS.Al-kautsar :1). Kenikmatan itu bisa berupa harta benda, kesehatan, rencana yang berhasil, keluarga yang harmonis dan lain sebagainya.  Maka selaiknyalah kita menyisihkan harta untuk dibagi kepada sesama sebagai ungkapan rasa syukur ini.

Keempat; Dengan disembelihnya kurban yang berupa hewan, maka tersirat bahwa kita pun harus menyembelih sifat-sifat kebinatangan kita. Menghilangkan naluri hayawaniah kita seperti rakus, tidak peduli, tidak tau aturan dan lain sebagainya menjadi naluri basyariyah yang uluhiyah. Disisi lain, Dengan digantinya berupa hewan oleh Allah SWT atas perintah penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim  menandakan bahwa manusia harkat martabatnya sama, tidak boleh dilecehkan, direndahkan ataupun bahkan sampai dipersembahkan.

Semangat Berkurban

Makna Kurban tersebut bila direfleksikan dalam aksi nyata dikehidupan sehari-hari kita tentu segala permasalahan degraditas moral bangsa ini akan terselesaikan. Merampok uang rakyat oleh para koruptor adalah bentuk perampasan hak-hak orang banyak yang tidak berprikemanusiaan , berprilaku beringas bak hewan yang ditunjukan oleh sebagian pelajar kita menandakan minimnya karakter mereka dan jauh dari nilai-nilai keagamaan, Mengkonsumsi dan bahkan mengedarkan obat-obat terlarang adalah bentuk pembunuhan secara perlahan-lahan generasi bangsa, kekerasan yang dilakukan oleh para oknum adalah bentuk pelecehan dan perendahan harkat martabat manusia. Itu semua adalah perbuatan yang tidak terpuji yang dilarang keras oleh Allah SWT.

Dari sini, semangat berkurban harus menjadi karakter yang terpatri dalam diri manusia dan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat berkurban berarti kemauan yang tinggi untuk menempatkan Allah SWT diatas segala-galanya. Kesungguhan untuk menghilangkan setiap kebinatangan manusia. Keinginan untuk saling berbagi dengan sesama. Melepaskan egoisme mewujudkan kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Semuanya ini dilaksanakan dengan tanpa pamrih atau imbalan apapun.

Seharusnya, semangat berkurban adalah semangat kita bersama membangun bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar