Oleh : ABDUL
ROHIM
Hari raya idul adha yang sering disebut hari raya
kurban. Tepatnya 26 Oktober 2012 . Hari raya kurban selaiknya menjadi
refleksi dan aksi bagi seluruh elemen bangsa. Betapa tidak, hari raya kurban
kali ini terjadi ditengah degraditas moral bangsa. Korupsi yang merajalela dan
bahkan cenderung menjadi-jadi, dalam dunia pendidikan, kita disuguhkan tontonan bagaimana pelajar dan
mahasiswa saling bentrok yang mengakibatkan jatuhnya korban, berbagai kasus
obat terlarang yang terus menjadi polemic, kekerasan yang sering terjadi di tengah kehidupan berbangsa dan
lain sebagainya.
Kemeriahan setiap tahun begitu dirasakan oleh umat
islam di dunia. Terlebih pada hari itu perintah Allah SWT untuk berkurban
(Fasolilii robbika wanhar –QS Al-kautsar : 2) yaitu menyembelih hewan yang telah ditentukan
seperti sapi, unta, kambing dan lainnya sehingga otomatis semenjak jauh hari
pun di pasar-pasar hewan ataupun pasar dadakan khusus hewan kurban begitu kentara kemeriahan nya guna menyambut
hari raya ini.
Tentu ritualitas tersebut janganlah hanya menjadi
rutinitas ritual yang kosong akan makna. Artinya hari raya kurban tidak
membekas sama sekali dalam jiwa seorang muslim. Padahal kalau kita renungkan,
hari raya ini begitu banyak pesan yang terkandung di dalamnya.
Pertama ; Hari raya kurban mengisyaratkan kita untuk
lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hal ini bisa kita lihat dari kata kurban sendiri yang berasal dari kata
‘qurbah’ yaitu dekat. Selain itu, secara historis kisah nabi Ibrahim yang
diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putra yang disayanginya yaitu
Ismail menandakan kepatuhan seorang hamba terhadap sang penciptanya. Bukan saja
harta, tenaga, waktu bahkan nyawapun siap dipertaruhkan nya. Namun Allah SWT
ternyata hanya menguji ketaqwaan dan keimanan nabi Ibrahim, Allah tidak
menghendaki manusia menjadi tumbal untuk sesembahan seperti yang terjadi pada
kebanyakan masyarakat pada waktu itu, maka diluruskan lah dengan mengganti nya
dengan binatang ternak berupa kibas untuk dikorbankan.
Inilah pesan vertical (Hablum minalloh ) dimana kita
harus tetap teguh dalam ketaqwaan, berapapun besarnya cobaan yang menerpa kita,
sesibuk apapun kita, seberat apapun perintah itu. Disinilah, Allah swt harus
ditempat kan diatas segala kepentingan kita.
Kedua; Dengan disembelihnya binatang ternak dan
dibagikan sebagai sedekah menandakan bahwa kita harus mempunyai rasa
kesetiakawanan, rasa solidaritas, saling berbagi dengan sesama. Dengan daging
hewan kurban yang telah disembelih kemudian dibagi-bagikan kepada sesama tampak
jelas nilai-nilai sosial sebagai perbuatan atau ahlak yang harus dimiliki
seorang muslim.
Ketiga; Menyembelih hewan kurban pun merupakan
ungkapan syukur kita kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diberikan-Nya yang
tak terhingga kepada kita (Inna ‘atoinaka kal kautsar- QS.Al-kautsar :1).
Kenikmatan itu bisa berupa harta benda, kesehatan, rencana yang berhasil,
keluarga yang harmonis dan lain sebagainya.
Maka selaiknyalah kita menyisihkan harta untuk dibagi kepada sesama
sebagai ungkapan rasa syukur ini.
Keempat; Dengan disembelihnya kurban yang berupa
hewan, maka tersirat bahwa kita pun harus menyembelih sifat-sifat kebinatangan
kita. Menghilangkan naluri hayawaniah kita seperti rakus, tidak peduli, tidak
tau aturan dan lain sebagainya menjadi naluri basyariyah yang uluhiyah.
Disisi lain, Dengan digantinya berupa hewan oleh Allah SWT atas perintah
penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim menandakan bahwa manusia harkat martabatnya
sama, tidak boleh dilecehkan, direndahkan ataupun bahkan sampai dipersembahkan.
Semangat Berkurban
Makna Kurban tersebut bila direfleksikan dalam aksi
nyata dikehidupan sehari-hari kita tentu segala permasalahan degraditas moral
bangsa ini akan terselesaikan. Merampok uang rakyat oleh para koruptor adalah
bentuk perampasan hak-hak orang banyak yang tidak berprikemanusiaan ,
berprilaku beringas bak hewan yang ditunjukan oleh sebagian pelajar kita
menandakan minimnya karakter mereka dan jauh dari nilai-nilai keagamaan,
Mengkonsumsi dan bahkan mengedarkan obat-obat terlarang adalah bentuk
pembunuhan secara perlahan-lahan generasi bangsa, kekerasan yang dilakukan oleh
para oknum adalah bentuk pelecehan dan perendahan harkat martabat manusia. Itu
semua adalah perbuatan yang tidak terpuji yang dilarang keras oleh Allah SWT.
Dari sini, semangat berkurban harus menjadi karakter
yang terpatri dalam diri manusia dan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara. Semangat berkurban berarti kemauan yang tinggi untuk menempatkan
Allah SWT diatas segala-galanya. Kesungguhan untuk menghilangkan setiap
kebinatangan manusia. Keinginan untuk saling berbagi dengan sesama. Melepaskan
egoisme mewujudkan kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Semuanya ini
dilaksanakan dengan tanpa pamrih atau imbalan apapun.
Seharusnya, semangat berkurban adalah semangat kita bersama
membangun bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar